Rabu, 19 Desember 2018

MAKALAH ILMU AKHLAK 4 SIFAT NABI

4 SIFAT NABI YANG WAJIB DIAPLIKASIKAN
DI SUSUN OLEH :
Rizki Nanda (160703047)

DOSEN PEMBIMBING : Muhammad Yusuf
 Hasil gambar untuk lambang uin ar raniry
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI AR-RANIRY
DARUSSALAM,BANDA ACEH
2018




KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim.Assalamu’alaikum wrahmatullahiwabrakatuh
           Dengan menyebut nama Allah SWT yang maha pengasih lagi maha penyayang,puji dan syukur hanya kepada Allah yang telah melimpahkan rahmat,hidayah,dan inayah –Nya kepada kita semua,sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Ilmu Akhlak ini yaitu tentang Akhlak dalam Bermasyarakat. Makalah ini telah kami susun dengan maksimal.terlepas dari semua itu,kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasa nya.oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala kritik dan saran dari dosen pembimbing agar kami dapat memperbaiki kesalahan yang terdapat di dalam makalah kami ini.
           Akhir kata kami berharap semoga makalah ini  bermanfaat bagi kita semua.akhir kata kami ucapkan banyak terimakasih.Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.






BANDA ACEH, 06 DESEMBER  2018





(Rizki Nanda )

DAFTAR ISI
 KATA PENGANTAR 2
DAFTAR ISI 3
BAB I PENDAHULUAN 4
A. Latar Belakang Masalah 4
B. Rumusan Masalah 5
C. Tujuan Masalah 5
BAB II PEMBAHASAN 6
A. Pengertian rasul dan perbedaannya dengan Nabi 6
B. Sifat-sifat Rasul 7
BAB III PENUTUP 16
A. Kesimpulan 16
B. Saran 16

BAB I
PENDAHULUAN

A.        Latar Belakang Masalah
Mengenal Rasul merupakan sebuah bahasa yang sangat penting dalam pembinaan keagamaan seorang muslim. Dalam kalimat syahadat kesaksiannya yang pertama yang dilakukan seorang adalah keyakinan bahwa Allah itu Esa dan yang kedua adalah keimanan terhadap kerasulan Muhammad SAW. Oleh karena itu pengenalan terhadap Rasulullah sangat menentukan tingkat pemahaman, penghayatan dan pengamalan seseorang terhadap ikrar keislaman mereka, karena dari sinilah terbentuklah kepribadian muslim.
Mengenal Rasul menjadi sebuah keperluan yang asasi bagi kaum muslimin masa kini karena mereka tidak hidup bersama dengan nabi, mereka harus beriman kepada Rasul dengan keimanan yang sebenar-benarnya. Inilah sebuah upaya untuk menghayati makna syahadatain.
Ibnu Qoyyim menerangkan bahwa kebutuhan manusia yang utama adalah mengenal para rasul dan ajaran yang dibawanya, percaya akan berita dan yang disampaikannya serta taat pada yang diperintahkan, sebab tidak ada jalan menuju kebahagiaan dan keberhasilan di dunia dan akhirat kecuali dengan tuntunan para rosul. Tidak ada pula petunjuk untuk mengetahui yang baik dan buruk maupun keutamaan yang lain kecuali mengikuti rasul untuk mendapatkan ridha Allah.

B.        Perumusan Masalah
            Beberapa hal yang akan kami rumuskan dalam makalah ini yaitu :
1. Apa pengertian Rasul?
2. Apa perbendaan antara Nabi dan Rasul?
3. Bagaimanakah kedudukan Rasul ?
4. Bagaimanakah Sifat-sifat Rasul?
5. Bagaimana kebutuhan manusia terhadap Rasul?

C.        Tujuan Penulisan Makalah
            Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu :
1. Memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam
2. Mengetahui dan memahami tentang Rasul Allah

3. Menambah wawasan ilmu pengetahuan
1. 
BAB 2
PEMBAHASAN

Ø PENGERTIAN RASUL
Rasul adalah seorang lelaki yang terpilih dan yang diutus oleh Allah dengan risalah kepada manusia.Rasul sebagai pembawa risalah yang Allah berikan kepadanya dan juga Rasul sebagai contoh dan teladan bagi aplikasi Islam di dalam kehidupan seharian. Untuk lebih jelasnya bagaimana mengenal Rasul yang menjalankan peranan pembawa risalah dan sebagai model, maka kita perlu mengenal apakah ciri-ciri dari Rasul tersebut. Ciri-ciri Rasul adalah mempunyai sifat-sifa yang asas, mempunyai mukjizat, sebagai pembawa berita gembira, ada berita kenabian dan memiliki ciri kenabian, juga nampak hasil perbuatannya.

Ø PERBEDAAN NABI DAN RASUL

Menurut pengertian bahasa, perkataan Rasul berasal dari bahasa Arab yang artinya utusan, kurir, pembawa misi, atau pembawa berita. Menurut istilah dalam tauhid, Rasul adalah Manusia pilihan Allah yang di angkat sebagai utusan-Nya untuk menyampaikan firman-firman-Nya kepada manusia agar dijadikan pedoman hidup, demi terwujudnya keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Percaya kepada Rasul-rasul Allah merupakan pengamalan rukun iman yang ke empat. Iman kepada para Rasul berarti meyakini dengan sepenuh hati bahwa para Rasul adalah orang laki-laki yang telah menerima wahyu dari Allah untuk disampaikan kepada umatnya agar mereka beriman.
Bedanya dengan nabi adalah kalau Nabi adalah orang yang mendapat wahyu dari Allah untuk dirinya sendiri, tanpa berkewajiban menyampaikan kepada orang lain. Sedang rasul adalah orang yang menerima wahyu dari Allah, selain untuk dirinya sendiri, juga berkewajiban menyampaikan kepada orang lain, seperti pengertian berikut Rasul adalah seorang laki-laki, mereka yang diberi wahyu oleh Allah tentang agama dan mendapat perintah supaya menyampaikan kepada semua mahluk. Jika tidak diperintahkan untuk menyampaikan (tabligh), orang itu disebut Nabi saja.

Rasul merupakan orang laki-laki pilihan Allah yang diberi wahyu, Firman Allah :
 

Artinya: Kami tiada mengutus Rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui. (Al-Anbiya: 7)
Mengenal Rasulullah SAW, perlu mengenal sifat-sifatnya. Karena bahagian tingkah laku, personaliti, dan penampilan diwarnai oleh sifat seseorang. Begitupun Nabi Muhammad SAW dapat digambarkan melalui sifat-sifatnya. Dengan mengetahui sifat-sifat Rasulullah Muhammad SAW ini, diharapkan kita menyadari bagaimana akhlak Rasulullah Muhammad SAW dan kemudian kita dapat mengikutinya.
Allah SWT berfirman :
                                                                                                        وإنك لعلى خلق عظيم 
Artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”
 
Al-'Izz bin Abdus Salam berkata: “Perhormatan besar dari para pembesar terhadap sesuatu menunjukkan masuknya ia dalam golongan orang-orang besar, maka bagaimana dugaanmu dengan penghormatan besar Yang Maha Besar? Dalam satu hadits diberitakan: Dari Sa'ad bin Hisyam bin 'Amir, ia berkata, “Aku datang kepada 'Aisyah ra, aku berkata, 'Wahai Ummul Mukminin, beritakanlah kepadaku tentang akhlak Rasulullah SAW, Ia berkata, “Akhlak beliau adalah al-Qur`an”. Bukanlah engkau membaca al-Qur`an, firman Allah Ta’ala :
                                                                                                        وانك لعلى خلق عظيم
 (“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”.) (QS. al-Qalam:4). Aku berkata, 'Sesungguhnya aku ingin tidak menikah (hanya beribadah).' Ia berkata, 'Janganlah engkau lakukan. Bukankah engkau membaca:
                                                                                      لقد كا ن لكم في رسول الله أسوۃ حسنۃ “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu”. (QS. al-Ahzaab:21).
Rasulullah SAW telah menikah dan telah dikarunia anak”.
Dari penjelasan hadits diatas, jelas Beliau adalah manusia biasa, hidup di tengah masyarakat, bergaul, makan, minum dan menikah tak ubahnya manusia lainnya. Akan tetapi, kepribadian dan perilaku Beliau berbeda dengan manusia lainnya. Tidak ada yang bisa memahami hakikat kedalaman akhlak orang seperti Muhammad SAW, kecuali penciptanya dan orang yang memiliki kesamaan karakter dengannya. Sebagai umatnya, kesamaan karakter tersebutlah yang harus senantiasa kita usahakan ada melekat pada diri kita agar dicintai Allah SW, sebagaimana Allah mencintai Rasul kita. Sifat-sifat Rasulullah SAW menggambarkan akhlak mulia yang diwarnai oleh akhlak Al Qur,an dan sangatlah patut dijadikan sebagai contoh yang baik bagi kita, diantara sifatnya adalah:

Ø KEDUDUKAN RASUL
Beberapa kedudukan dan derajat Rasul sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran,yaitu:

1. Tunduk dan Pasrah Di Hadapan Allah Swt
Allah Swt  menjelaskan kedudukan dan derajat Rasul di dunia dan akhirat. Di antara posisi istimewa itu adalah sikap tunduk dan pasrah di hadapan Tuhan.

2. Risalah Kenabian
Karakteristik risalah Rasul adalah sebagai penutup, penghapus risalah sebelumnya, penyempurna risalah para Nabi as terdahulu, ditujukan untuk seluruh umat manusia, dan sebagai rahmat bagi semesta alam.Allah Swt juga telah menjelaskan bahwa Rasul SAW adalah penutup para Nabi sehingga tidak ada Nabi lain setelahnya.

3. Pemberi Syafaat
Pemberi syafaat termasuk gelar lain yang disandang oleh Rasul Saw. syafaat yang dimiliki Rasul Saw adalah syafaat yang bersifat mutlak. Allah Swt memberi wewenang kepada Rasul Saw untuk memberi syafaat kepada umatnya kelak.

4. Kemaksuman Mutlak
Kemaksuman mutlak (kesucian mutlak) juga termasuk kedudukan lain yang dimiliki Rasul Saw.
5. Wilayah dan Kepemimpinan
Rasul Saw mengemban tugas untuk memberi penjelasan berbagai urusan dunia dan akhirat umat manusia. Beliau menjelaskan kepada masyarakat sesuai dengan ketentuan wahyu.


6. Penghambaan
Lembaran kehidupan Rasul Saw adalah kumpulan makrifat, keilmuan dan amal saleh yang mendidik umat manusia.
Ø   SIFAT-SIFAT RASUL
Sifat-sifat para rasul itu ada wajib, mustahil dan harus.
1.Sifat-sifat Wajib,meliputi :
A. Siddiq
artinya benar di dalam tutur kata dan tingkah laku. Bukan hanya perkataannya yang benar, tapi juga perbuatannya juga benar. Sejalan dengan ucapannya. Beda sekali dengan pemimpin sekarang yang kebanyakan hanya kata-katanya yang manis, namun perbuatannya berbeda dengan ucapannya.
Mustahil Nabi itu bersifat pembohong/kizzib, dusta, dan sebagainya.

Dalil :
إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى
Artinya : Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS An-Najm: 4-5)
B. Amanah
Dalam al-Qur’an, makhluk yang paling sering disifati dengan amanah adalah para nabi dan rasul, sehingga dalam kitab-kitab ilmu kalam, para nabi dan rasul memiliki empat sifat yang wajib bagi mereka, seperti al-tablig/ menyampaikan risalah kepada umatnya, al-fatanah/memiliki kecerdasan atau intelegensia yang tinggi, al-siddq/memiliki kejujuran dan al-amanah/dapat dipercaya atau memiliki integritas yang tinggi. Dengan demikian, sering ditemukan dalam beberapa ayat, para rasul menyipati dirinya sebagai al-amin.
Nabi Nuh misalnya ketika mengajak kaumnya untuk takut kepada siksaan Allah swt. atas kesyirikan yang mereka lakukan, namun kaum Nuh itu tetap mendustakan dia dan rasul-rasul sebelumnya, sehingga nabi Nuh} mengatakan kepada kaumnya:

  أَلا تَتَّقُونَ. إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ.             
  Terjemahnya: “Mengapa kamu tidak bertakwa?. Sesungguhnya Aku adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu” (QS. al-Syu’ara: 106-107).
Nabi Nuh mengatakan hal tersebut di atas, sebagai bentuk keheranannya atas kesyirikan yang mereka lakukan padahal sudah dilarang olehnya dan dia termasuk orang yang dikenal terpercaya dan tidak pernah dicurigai oleh kaumnya.  Senada dengan Nabi Nuh, Nabi Hud juga mengajak kaumnya agar mengenal Allah swt. dan taat kepada-Nya dengan melakukan hal-hal yang dapat mendekatkan diri kepada-Nya dan menjauhkan dari siksaan-Nya, namun mereka tetap inkar dan mendustakan Nabi Hud dengan mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh Nabi Nuh.
أَلا تَتَّقُونَ. إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ.
 Terjemahnya: “Mengapa kamu tidak bertakwa?  Sesungguhnya Aku adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu” (QS. al-Syu’ara’: 124-125).
Bahkan pada ayat yang lain, Nabi Hud disebutkan sebagai pemberi nasehat yang dapat dipercaya, ketika kaumnya menolak ajakannya untuk menyembah Allah swt. dan takut kepada-Nya, akan tetapi kaumnya kemudian mengejeknya dengan menuduhnya sebagai orang bodoh dan pendusta, lalu Nabi Hud menyanggah ejekan itu dengan mengatakan:
يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي سَفَاهَةٌ وَلَكِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ. أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنَا لَكُمْ نَاص
 Terjemahnya: “Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikitpun, tetapi Aku Ini adalah utusan dari Tuhan semesta alam. Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan Aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu” (QS. al-A‘raf: 67-68)3
Menurut al-Razi, maksud dari ungkapan nasih amin dalam ayat tersebut sebagai 1) Sanggahan terhadap ungkapan kaumnya  وِإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ الكاذبين, 2) Pokok pembicaraan tentang risalah dan tablig adalah amanah, sehingga ungkapan tersebut sebagai penguat terhadap risalah dan kenabian, 3) penjelasan tentang integritas Nabi Hud sebelum menjadi rasul sebagai seorang yang dikenal amanah oleh kaumnya. Oleh karena itu tidak seharusnya kaumnya menganggapnya sebagai pembohong atau orang bodoh. Hal yang sama dilakukan oleh Nabi Salih, Nabi lut dan Nabi Syu’aib dengan mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh Nabi Nuh dan Nabi Hud, yaitu:
أَلا تَتَّقُونَ. إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمTerjemahnya: “Mengapa kamu tidak bertakwa?. Sesungguhnya Aku
 adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu ,Di samping nabi-nabi yang telah disebutkan di atas, nabi yang juga disifati sebagai al-amin adalah Nabi Musa as., bahkan Nabi Musa disebutkan dua kali sebagai al-amin dalam al-Qur’an, yaitu pada QS. al-Dukhan:18  
وَلَقَدْ فَتَنَّا قَبْلَهُمْ قَوْمَ فِرْعَوْنَ وَجَاءَهُمْ رَسُولٌ كَرِيمٌ. أَنْ أَدُّوا إِلَيَّ عِبَادَ اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ.                          Terjemahnya: “Sesungguhnya sebelum mereka Telah kami uji kaum Fir’aun dan Telah datang kepada mereka seorang Rasul yang mulia. (dengan berkata): “Serahkanlah kepadaku hamba-hamba Allah (Bani Israil yang kamu perbudak). Sesungguhnya Aku adalah utusan (Allah) yang dipercaya kepadamu”.
Kata rasul al-amin dalam ayat tersebut sebagai dasar ajakan Nabi Musa terhadap kaumnya agar beribadah kepada Allah swt. pengakuan Nabi Musa as. diperkuat oleh mukjizat yang dimilikinya. Sedangkan al-amin kedua yang diberikan kepada Nabi Musa terjadi bukan dalam masalah risalah, akan tetapi tentang penilaian putri Nabi Syu’aib kepada Nabi Musa as. dengan mengatakan:
قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الأمِي
 Terjemahnya: “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), Karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang Kuat lagi dapat dipercaya” (QS. al-Qas}as}: 26).
Dalam tafsir al-Tabari dijelaskan bahwa penilaian salah satu putri Nabi Syu’aib terhadap Nabi Musa bahwa dia sangat kuat dan dapat dipercaya karena apa yang dilihatnya pada saat Nabi Musa memberi minum terhadap hewan ternak mereka, sedangkan penilaian amanah terjadi karena keterjagaan pandangan Nabi Musa terhadap kedua putri Nabi Syu’aib dalam perjalanan ke rumah mereka.
C. Tablig
Tabligh artinya menyampaikan. Segala firman Allah yang ditujukan oleh manusia, disampaikan oleh Nabi. Tidak ada yang disembunyikan meski itu menyinggung Nabi.
                                                          لِّيَعْلَمَ أَن قَدْ أَبْلَغُوا۟ رِسَٰلَٰتِ رَبِّهِمْ وَأَحَاطَ بِمَا لَدَيْهِمْ وَأَحْصَىٰ كُلَّ شَىْءٍ عَدَدًۢا
“Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu.” [Al Jin 28]
“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,
karena telah datang seorang buta kepadanya” [‘Abasa 1-2]
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa firman Allah S.80:1 turun berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum yang buta yang datang kepada Rasulullah saw. sambil berkata: “Berilah petunjuk kepadaku ya Rasulullah.” Pada waktu itu Rasulullah saw. sedang menghadapi para pembesar kaum musyrikin Quraisy, sehingga Rasulullah berpaling daripadanya dan tetap mengahadapi pembesar-pembesar Quraisy. Ummi Maktum berkata: “Apakah yang saya katakan ini mengganggu tuan?” Rasulullah menjawab: “Tidak.” Ayat ini (S.80:1-10) turun sebagai teguran atas perbuatan Rasulullah saw. (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim yang bersumber dari ‘Aisyah. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Ya’la yang bersumber dari Anas.)
Sebetulnya apa yang dilakukan Nabi itu menurut standar umum adalah hal yang wajar. Saat sedang berbicara di depan umum atau dengan seseorang, tentu kita tidak suka diinterupsi oleh orang lain. Namun untuk standar Nabi, itu tidak cukup. Oleh karena itulah Allah menegurnya. Sebagai seorang yang tabligh, meski ayat itu menyindirnya, Nabi Muhammad tetap menyampaikannya kepada kita. Itulah sifat seorang Nabi. Tidak mungkin Nabi itu Kitman atau menyembunyikan wahyu.
D. Fatanah
 Fathanah dapat diartikan sebagai intelektual, 'kecerdikan atau kebijaksanaan'. Pemimpin perusahaan yang fathanah artinya pemimpin yang memahami, mengerti, dan menghayati secara mendalam segala hal yang menjadi tugas dan kewajibannya. Sifat fathanah dapat dipandang sebagai strategi hidup setiap Muslim. Seorang Muslim harus mengoptimalkan segala potensi yang telah diberikan oleh-Nya untuk mencapai Sang Kholiq. Potensi paling berharga dan termahal yang hanya diberikan pada manusia adalah akal (intelektualitas). Allah dalam AI-Quran selalu menyindir orang-orang yang menolak seruan untuk kembali (tobat) kepada-Nya dengan kalimat "Apakah kamu tidak berpikir? Apakah kamu tidak menggunakan akalmu? Allah menciptakan siang dan malam, menjadikan gunung-gununq, tanaman-tanaman yang berbeda sebagai tanda kebesaran-Nya bagi kaum yang berpikir." Allah SWT. Berfirman :
"Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sunqai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan. Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan"(QS AI-Ra'd [13]: 3).
Salah satu ciri orang yang paling bertakwa adalah orang yang paling mampu mengoptimalkan potensi pikirnya. AI-Quran menyebut orang yang senantiasa mengotimalkan potensi pikirnya dengan sebutan ulul al-albab, yaitu orang yang iman dan ilmunya berinteraksi secara seimbang.  Allah SWT. bahkan memberikan peringatan keras kepada orang-orang yang tidak menggunakan akalnya.

Dalil :
الَ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
Artinya:
 "Berkata Yusuf, Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan" (QS Yusuf [12]: 55).

2.Sifat-sifat Mustahil,meliputi :

A. Kidzib artinya adalah dusta. Semua Rasul adalah manusia-manusia yang dipilih oleh Allah SWT sebagai utusan-Nya. Mereka selalu memperoleh bimbingan dari Allah SWT sehngga terhindar dari sifat-sifat tercela. Setiap rasul benar ucapannya dan benar pula perbuatannya. Sifat dusta hanya dimiliki oleh manusia yang ingin mementingkan dirinya sendiri, sedangkan rasul mementingkan umatnya.

B. Khiyaanah artinya adalah berkhianat atau curang. Tidak mungkin seorang rasul berkhianat atau ingkar janji terhadap tugas-tugas yang diberikan Allah SWT kepadanya. Orang yang khianat terhadap kepercayaan yang telah diberikan kepadanya adalah termasuk orang yang munafik, rasul tidak mungkin menjadi seorang yang munafik.

C. Kitmaan artinya adalah menyembunyikan. Semua ajaran yang disampaikan oleh para rasul kepada umatnya tidak ada yang pernah disembunyikan. Jangankan yang mudah dikerjakan dan difahami dengan akal fikiran, yang sulit pun akan disampaikan olehnya seperti peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW.

D. Balaadah artinya adalah bodoh. Seorang rasul mempunyai tugas yang berat. Rasul tidak mungkin seorang yang bodoh. Jika rasul bodoh, maka ia tidak akan dapat mengemban amanat dari Allah SWT. Jadi, mustahil rasul memiliki sifat bodoh.


Ø KEBUTUHAN MANUSIA TERHADAP RASUL
Adapun kebutuhan manusia akan Rasul adalah :

1.      Meluruskankekeliruan pemahaman manusia atas wahyu Allah
Rasulullah diutus oleh Allah SWT membawa wahyu (Al-Qur’an) bertujuan agar manusia yang sudah tersimpangkan pemahamannya oleh thaguth –tentang wahyu-, dapat diluruskankembali pemahamannya.

2.      Mengajarkannilai-nilaiwahyu
Allah juga mengutus Rasul dengan tujuan mengentaskan kebodohan masyarakat dari wahyu, sehingga kelak diyaumul akhir tidak ada lagi alasan manusia dihadapan Allah bahwa ia tidak tahu.

3.      Mengentaskan kesesatan manusia.pada akhirnya Rasul juga di utus untuk menghilangkan kesesatan manusia.






BAB III
PENUTUP

A.KESIMPULAN
Setelah kita menjabarkan mulai dari mengenal Rasul sampai sifat-sifat wajib dan mustahil Rasullullah,maka dapat kita simpulkan bahwa Rasullullah adalah panutan yang baik untuk kita contoh baik secara bathin dan secara dhohir. Rasullullah memang wajib kita panuti.

B.CATATAN PENTING
Saran dari penulis adalah marilah kita menjadikan kehidupan maupun sifat pribadi beliau yaitu Rasullullah sebagai contoh atau panutan dalam kehidupan sehari-hari kita yang sesuai dengan syariah yang semestinya dan sekaligus pembawa kita kedalam kehidupan yang bahagia baik itu di dunia dan akhirat kelak nanti.







DAFTAR PUSTAKA
Hadari nawawi. 1993.  kepimpinan Menurut islam. Gajah mada university press:    Yogyakarta. Hlm.274
Ahmad Muhammad A. 2000. Keteladanan akhlak Nabi Muhammad saw. Pustaka setia : bandung. Hlm 289


Tidak ada komentar:

Posting Komentar